:: Believe In Your Ears Not In Your Faith ::

Latest

[Hujan022] Various Artists – Teknik Elektro (BAB I)

Satu tahun yang lalu saya dikontak oleh Rizkan Al Maududy founder dari Stone Age Records via message di jejaring sosial Facebook, isinya kurang lebih seperti ini “Halo lang…Ane kan diajakin rilis lang kompilasi buat musik elektronik lang, Nah kira Hujan mw rilis bareng gak lang soalnya kan Hujan spesialisasi ke musik elektronik jga…Gmana lang?”, pesan yang saya terima bulan November 2010 tersebut langsung dibalas dengan ketertarikan dan pernyataan setuju untuk merilis bersama sebuah kompilasi yang berisi band band serta project musik lintas genre dan daerah berbenang merah sama, elektronika. Kompilasi ini diprakarasai oleh Dicka Prasetya otak dibalik sebuah project ambient DXC yang juga mengelola sebuah webzine bernama Spirit Of Youth. Perbincangan saya bersama Rizkan tentang project kompilasi ini kemudian terhenti, walaupun kami sering mengobrol via messenger service, tetapi kelanjutan dari project ini tidak pernah kami bahas dan berlalu begitu saja.  Read the rest of this page »

[Hujan! Rekords Sampler Vol.2] Chamberlain – Killer Dreams

Nama Chamberlain merepresentasikan sebuah implementasi dari eksplorasi yang bersifat  metafor dan analogis secara musikal dan konseptual. Sebuah nama yang mengandung nilai  istimewa, dan “Killer Dreams” menandakan awal babak baru dari perjalanan musikal Chamberlain. Mengurai pencarian dalam suatu perjalanan sebuah mimpi yang absolut memang bukanlah hal mudah. Namun Chamberlain berusaha untuk tidak tenggelam dan menyerah dalam utopia yang ditawarkan dari mimpi itu sendiri. Lagu yang tetap bernuansa muram dan ditingkahi oleh sound gitar berderu ini bercerita tentang sebuah keadaan seseorang yang bergantung pada suatu hal lain dari dirinya dan kecenderungannya menuju adiksi. Candu yang kebutuhannya harus segera dilengkapi sehingga dalam penggenapannya segala cara apapun menjadi lazim demi membunuh rasa pedih yang dihasilkannya. “Killer Dreams” membawa sebuah harapan, harapan akan suatu pertanda, apapun itu bentuknya. Read the rest of this page »

[Hujan021] Aziz S – Friends And The Underground EP

Ketika sebuah gitar kopong dan coretan lirik menciptakan sebuah manifesto kamar kecil yang berteriak “Mari Mulai Revolusi Dari Kamar Ini!”, mungkin hal ini terlihat sepele dan kecil. Tetapi bagi Aziz Suraj dan sejuta musisi lainnya hal ini merupakan anugrah yang tidak tertandingi keberadaannya. Bermula dari sebuah scene kecil tepatnya di venue sesak bernama De Javu, Aziz sudah mulai aktif dan bermain dengan band-band seperti Bitter Ballen, Tinkerbell, My Name Is, Face Off, dan lain sebagainya. Walaupun sempat membantu band-band seperti Motoric Mathematics dan Tinkerbell, nampaknya sebuah alter ego dirinya pun belum terasa mengalir secara bebas, oleh karea itu ia lebih memilih untuk bersolo karir. Sebuah debut EP akhirnya dirilis, yang dapat dikatakan cukup tepat untuk mengakomodir musik dan jati diri Aziz sendiri. Dimulai dengan sebuah track upbeat berjudul “Friend Or Foe” yang menorehkan sebuah coretan klise nan menyentuh dari kehidupan: persahabatan dan musuh. Lalu masuk ke track kedua “Underdog Staygold”, sebuah track balada tentang kehidupan scene underground dan tidak ketinggalan bumbu “Fuck You! We Are Young”-nya. Read the rest of this page »

[Hujan020] pewee in the garage – trOIs et MOIs

Kamar tidur adalah sebuah batas. Batas antara dua buah ruang. Antar publik dengan privat. Dalam langgam arsitektur Jawa, kamar menempati bagian paling dalam. Bagian yang tak sembarang tamu bisa menyelinap masuk. Saking privatnya, bahkan dibuatkan semacam sekat khusus untuk menghindari tamu nakal main selonong. Bagian yang disebut dalem ageng tadi merupakan kamar tidur si empunya rumah serta sebuah bilik tempat pemujaan kepada Dewi Sri. Pun begitu dengan rumah adat Sunda. Ada garis batas bernama pangkeng antara teritori tamu dengan wilayah kekuasaan tuan rumah. Area dalam pangkeng merupakan kamar tidur bagi seluruh penghuni rumah. Maka tidak heran jika kamar merupakan bagian yang paling intim. Kepribadian seseorang bisa dilihat dari bagaimana kamar tidurnya serta apa yang mengisinya. Bagi saya pribadi, kamar merupakan bagian rumah dimana saya menjadi diri yang paling “saya”. Di kamar, setelah menutup rapat pintu, saya bebas melakukan apapun, dari yang baik sampai yang masuk kategori vivere peri closo, menyerempet bahaya. Namun semuanya berubah ketika kaki melangkah keluar. Saya dihadapkan pada berbagai macam aturan, kesepakatan, serta negosiasi dalam unit keluarga yang sedikit banyak “membatasi” ruang gerak saya. Maka saat Liam Gallagher berteriak , “So I’ll start a revolution from my bed”, saya mengamini. Imajinasi, angan, juga keliaran akhirnya menemukan ruang yang sepadan bernama kamar tidur. Read the rest of this page »

[Hujan019] {tantrum} – s/t EP

Buat saya musik cuma ada 2, enak dan gak enak. Lewat masalah enak dan gak enak, kita akan masuk ke area “selera”. Di sinilah masuk kategori berikutnya, yaitu suka dan gak suka. Masalah bagus atau tidak, menurut saya tidak pernah ada pembatas konkritnya. Musik {tantrum} sendiri buat saya masuk dalam kategori enak dan suka. Lagu-lagu yang disuguhkan dalam EP mereka menghantarkan saya pada situasi yang lain-lain. Membuat tatapan mata saya berubah-ubah sesuai dengan atmosfir musik yang sedang dimainkan. Saya akan skip semua track yang isinya celotehan dalam bahasa asing yang saya tidak mengerti kata-katanya ataupun maksud dan tujuannya (saya tidak bilang jelek, hanya saya tidak mengerti, sehingga saya tidak bisa menikmatinya). Jadi, saya hanya akan bercerita pengalaman saya mendengarkan {tantrum} di track-track berirama. “Sambassador”, lagu ini mungkin diberi judul demikian karena dasar irama Samba yang terkandung di dalamnya. Begitu mendengar lagu ini, mata saya terbelalak. “Wah seru, nih!”, hati saya otomatis berseru. Terasa segar dan sangat joget-magnet di kuping saya. Saya teringat dengan lagu-lagu lounge yang dulu sempat populer di peer group saya. Lagu ini sangat cocok menemani kaum sosialite minum wine sore hari sambil menatap matahari terbenam di gunung maupun pantai. “Beach Bum”, mata saya membesar dan dahi berkerut saat mendengarkan intro lagu ini. “Lho, kok, tidak seperti track sebelumnya? Mengapa agak folk begini?”, begitu pikir saya. Semakin jauh mendengarkan, saya malah merasakan nuansa rock dan jazz yang cukup kental nongol di balik chord dan instrumen. Variasi progresi kuncinya membuat saya kadang lompat, kadang bengong, kadang headbanging. I think this song is very well-arranged. Beberapa instrumen mendominasi lagu di bar yang berbeda-beda, sehingga tidak ada yang kesannya rebutan tebar pesona keahlian. Read the rest of this page »

[Hujan018] Bottlesmoker – Let’s Die Together In 2012 (B-side Rarities)

Suatu ketika di tahun 2008, kebetulan tepat di bulan April, saya sedang kebingungan mencari satu band lagi yang akan membuka acara release party untuk majalah tempat saya bekerja dulu. Rekan kerja saya mengusulkan Bottlesmoker. Saat itu saya baru pertama kali mendengar nama mereka. Dari namanya, saya sempat mengira musik yang mereka mainkan tidak jauh dari unsur distorsi yang riuh. Karena acara diadakan di sebuah toko buku, maka pertanyaan pertama yang saya ajukan ke teman saya itu, “Kencang nggak musik mereka?” . Pertanyaan saya yang naif tersebut terjawab dengan sendirinya ketika duo Anggung Kuy Kay (Angkuy) dan Ryan Nobie Adzani (Nobie) membuka acara dengan alunan musik elektronik yang penuh dengan atmosfir hangat dan ceria. Jauh dari unsur distorsi yang memekakkan telinga. Sejak saat itu, keberadaan grup ini selalu saya amati. Dan seiring waktu, saya terus berdecak kagum kepada kegigihan mereka dalam mengenalkan musik Bottlesmoker kepada khalayak yang lebih luas. Tentunya dengan ideologi Free+Music+Share=Love yang mereka terus junjung dan tiupkan. Musik Bottlesmoker walaupun masih terdengar ramah dan menyenangkan bagi telinga, namun tetap saja memiliki resiko besar untuk diacuhkan banyak orang mengingat tidak adanya alunan vokal dalam setiap lagu. Terlebih dengan kebiasaan orang Indonesia yang suka bernyanyi atau bersenandung kapan saja dan dimana saja, musik seperti Bottlesmoker tentunya akan mudah diabaikan. Tapi inilah kehebatan grup yang berdiri dari tahun 2005 ini. Diam tapi pasti, mereka menjawab semua keraguan dan mendobrak semua kebiasaan yang dulu pernah ada: bahwa kini musik elektronik instrumental yang notabene berada di arus pinggir memiliki kedudukan yang sama dengan musik populer. (salah satu bukti: belum lama ini Bottlesmoker tampil pada acara musik di televisi nasional di pagi hari.) Read the rest of this page »

[Hujan017] Electrical Address – Hujan! EP

Saat pertama kali mendengarkan materi EP dari Electrical Address ini, ada tiga hal yang terpintas dari benak saya Electronic, Powerpop, dan Vokalis wanita. Ya, seperti yang kita tahu bahwa  vokalis dari Electrical Address adalah seorang wanita dan lumayan hiperaktif dalam setiap penampilannya. Dalam EP ini Electrical Address masih dengan setia menonjolkan kentalnya pengaruh dari Goodnight Electric yang sangat terdengar di setiap lagunya. Nada nada penyemangat yang catchy serta chorus repetitif yang mudah dingat merupakan ujung tombak dari EP ini. Lirik yang kebanyakan bercerita tentang cinta dikala remaja merupakan bumbu spesial dari Electrical Address untuk menyentuh para pendengar dan fans mereka yang mayoritas masih berumur belia dan sedang merasakan hangatnya cinta pertama. Read the rest of this page »

[Hujan016] Sajama Cut – Twice (Rung The Ladder) / Poral Molice (Double Single)

Gejala-gejala sosial di Indonesia selalu menjadi alasan sebagian besar bangsanya untuk bersikap apatis terhadap lingkungan sekitar karena terkadang membuat masyarakat terbelit dan terpojok dengan kebijakan-kebijakan aneh yang lahir di tengah-tengah mereka. Sementara itu polisi-polisi moral menjadi arogan dan self pretentious dengan alibi-alibinya agar bisa terlihat peduli dan bekerja atas nama negara Indonesia dan kepentingan institusi atau organisasinya.  Sajama Cut mungkin salah satu di antara jutaan orang dan ribuan band di Indonesia yang melihat fenomena ini dan mengkritik lewat double single Twice (Rung The Ladder) / Poral Molice yang dirilis serentak secara digital melalui beberapa situs online pada tanggal 24 Februari 2011. Sajama Cut merasa tidak harus terjebak dengan strategi marketing yang konvensional. “Daripada merilis dalam bentuk CD, kami lebih memilih untuk bekerja sama dengan media online dalam mendistribusikan dua lagu ini secara gratis kepada para pendengar musik. Menurut saya, mengedukasi musik lebih menantang, daripada mengeksploitasinya. Kami kurang suka dengan strategi RBT. Di samping itu, merilis dua single sekaligus adalah sesuatu yang baru bagi Sajama Cut.” ungkap Randy Apriza Akbar, selaku bassist di Sajama Cut. Dion Panlima Reza (Gitar) membenarkan bahwa ini adalah pertama kalinya dua track dirilis dalam waktu bersamaan. “Pada dasarnya, Sajama Cut ingin membebaskan interpretasi orang-orang saat mendengarkan Twice sekalipun di dalam lagu tersebut memang ada sesuatu yang dibicarakan secara mendalam.” jelasnya. Read the rest of this page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.